Stay informed on our news or events!

post

Karya : Vitri rajbina soliha


Smkassalaambandung.sch.id
- Suatu malam Nara baru saja pulang dari kantor dengan badan yang lemah lesu karena capek berkerja seharian di kantor, sampai di indekost nya Nara langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Malam semakin larut menuju pagi. Nara tertidur sangat lelap karena kelelahan.

Pagi hari itu adalah pagi yang cerah aku terbangun dari tidurku yang lelap oleh suara kicauan burung dan suara seseorang yang berbisik ditelingaku “Aku sayang kamu.”Seorang laki-laki berbisik ditelinga Nara. Nara terbangun dan terkejut. “Pagi!.” Ucap laki-laki tersebut tersenyum kepada Nara. “Ugh, pergi sana!.” Bentak Nara. “Kenapa?kok kamu marah? Nara..kenapa 2 tahun ini sikapmu berubah.” Ucap laki-laki tersebut sedih. “Leon.., dulu dan sekarang itu berbeda. 2 tahun lalu kan kamu masih hidup.” Nara menatap Leon dengan dalam. “Ahah aku lupa.” Leon mengaruk kepala. “Kamu tunggu diluar aku mau mandi.” Ketus Nara. Nara beranjak ke kamar mandi. Leon adalah pacar Nara, mereka sudah menjalin hubungan selama 7 tahun. Keduanya sudah sepakat akan menikah setelah mereka selesai kuliah. Mereka harus menjalani hubungan jarak jauh karena Leon  ditugaskan di perusahaan di luar kota untuk menjalani masa training selama satu tahun. Namun pada suatu hari, saat Leon akan pergi ke acara kelulusan Nara, Leon mengalami kecelakaan lalulintas.

Sehari sebelum kelulusan Nara  menelepon Leon. “Leon tolong dengar baik-baik, aku tak masalah jika kamu tidak datang ke acara kelulusanku. Serius! Kamu harus jaga kesehatan kamu!.” Ucap Nara dengan tegas. “Aku akan datang, hanya perlu waktu 3 jam untuk sampai, jadi aku-” Ucap Leon. “Pokoknya jangan!,awas aja kalo kamu maksain!.” Nara memotong. “Iya sayang.” Leon tertawa. Tetapi Leon tidak menghiraukan ucapan Nara, Leon tetap ingin pergi, dia bermaksud untuk membuat suprise untuk Nara. Pada saat itu Leon tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Saat menyetir Leon merasa sangat ngantuk, dia tidak tahu bahwa tubuhnya begitu lelah, sehingga mobil nya oleng dan menabrak pembatas jalan lalu mobilnya terseret kereta hingga hancur. Setelah dilarikan ke rumah sakit,beberapa jam kemudian keluarga Leon menghubungi Nara. Tanpa berpikir panjang Nara langsung pergi kerumah sakit. Setelah sampai dia melihat keluarga Leon sedang menangis lalu dia melihat ada orang yang berbaring yang ditutupi kain putih dan juga Ibu Leon menangis dan memegang seseorang tersebut. Nara menelan ludah,dia perlahan mendekati orang yang ditutupi kain tersebut. Lalu saat membuka kain Nara sangat terkejut dan syok melihat Leon penuh dengan darah.

“Leon..? Leon! Bangun!, hah gak mungkin ini pasti mimpi, Leon nggak mungkin hiks hiks.” Nara menangis histeris dan menghempaskan tubuhnya ke lantai.  “Dasar pembunuh! Semuanya gara-gara kamu Leon kecelakaan!, kamu pasti maksa anak saya buat datang ke acara kelulusan kamu! Egois! Kamu pembunuh!.” Ibu Leon menampar Nara. “Bu.. Nara tidak paksa Leon untuk pergi ke acara kelulusan Nara Bu, Nara sudah bilang pada Leon hisk.. hiks.” Nara menangis tangannya memegang kaki Ibu Leon. Ibu Leon menendang Nara. “Ma stop! sudah,ini bukan salah Nara!ini salah Leon dia memaksakan diri , jangan salahkan Nara, kasihan Nara dia masih syok.” Ayah Leon menarik Ibu Leon.

Lalu tibalah hari pemakaman Leon. Semua keluarga dan kerabat Leon, teman-teman kuliah juga rekan kerja nya datang ke pemakaman, hanya Nara yang tidak hadir di pemakaman. Bukan nya Nara tidak ingin hadir hanya saja Ibu Leon melarang Nara untuk hadir, hal itu membuat Nara sakit hati. Sementara itu Nara sedang bersedih di kostnya, dia terus menangisi kekasihnya yang telah pergi dan tidak mau makan. Setelah kelelahan menangis Nara tertidur di sofa.

“Nara... Nara bangun sudah pagi.” Seseorang berbisik. “Uh.. aku mimpi lagi?.”Nara terbangun ia kaget karena melihat sosok Leon yang berdiri dihadapannya. “Leon?!,itu kamu?ini bukan mimpi?.” Nara langsung memeluk Leon tetapi pelukan tersebut menembus tubuh Leon. Nara kaget dan kebingungan. “Nara ,kamu tidak bisa menyentuhku karena aku adalah arwah. Kamu lupa bahwa aku sudah mati?.” Leon tersenyum. Nara baru menyadarinya. “ Aku bingung, mau sedih atau senang.”Nara sedih. “Kenapa?” Tanya Leon. “Kamu sudah meninggal tapi kamu juga ada disisiku.” Nara menangis. “Ya jangan sedih! Aku kan ada disini.” Ucap Leon penuh bangga. Nara tertawa. “Oh iya kenapa kamu bisa ada di dunia ini? Papaku juga meninggal tapi aku gak bertemu arwahnya.” Tanya Nara. “Lah? ya mana saya tahu mbak, ini kan pertama kalinya saya jadi arwah.” Leon tertawa iseng. “Eh iya juga ya, kamu ngomong blak-blakan banget.” Nara tertawa lagi. Tingkah Leon yang konyol selalu membuat Nara tertawa. Leon tersenyum lega karena melihat Nara bisa tertawa lagi. “Ah benar juga, ini semua kan salah kamu!, kan aku udah bilang gak usah maksain, lihat kan akibatnya? Kalo pacar ngomong tuh dengerin!.” Nara marah. “Iya sayang maaf ya, aku yang ceroboh, jangan marah dong.” Ucap Leon manja. “Huh! Tau ah! Dasar hantu nyebelin.” Nara tertawa. Mereka berdua pun mengobrol bersama saling bercerita satu sama lain, seperti dulu saat Leon masih hidup. Seharusnya hari ini menjadi hari tersedih dihidup Nara. Tapi hari ini sangat hangat dan bahagia karena kekasihnya menghiburnya dan menemaninya ketika ia terpuruk dalam kesedihan. Selengkapnya...